Kamis, 17 Januari 2013

Toyota Kijang Innova 2005, Racikan Budget Pelajar





Eforia MPV kencang yang lazim dilakoni pada Toyota Innova turbo diesel, ditangkap Therry sebagai ajang pembuktian diri. Hanya saja,  Therry menerapkannya pada Toyota Innova bensin bermesin 1TR-FE miliknya.

Pelajar kelas 2 SMU ini sebenarnya penasaran lantaran mesin bensin Toyota 1TR -FE berkapasitas 2.000 cc yang diusung Innova terbilang boyo. Untuk mencapai tujuannya ini, Therry tidak sendirian. Melainkan menggandeng Willy, tuner drag race dari One Second Faster.

TURBOCHARGER

Willy yang bermarkas di Kebon Jeruk, Jakbar kebagian menggarap project bersama Therry. “Sengaja mesin dibiarkan standar pabrik agar biaya tak terlalu mahal,” cetusnya. Maklum, masih anak sekolah!

Meski begitu, bukan berarti hasilnya jelek. Terbukti dari beberapa hasil dyno test, Innova bertampang standar dengan tongkrongan  jangkung ini bisa meraih output maksimal sekitar 130 dk dengan ban AT (All Terrain) 235/70-R15 dan seabrek perangkat audio di dalam kabin.

Jelas ini menjadi prestasi tersendiri mengingat siswa yang wara-wiri dari rumah di bilangan Semper, Jakut ke sekolahnya di Kelapa Gading butuh besutan yang gesit dan bertenaga. 

Paling krusial saat instalasi turbo ada pada sektor pembuatan piping stainless steel versi customized. Pasalnya mesin 1TR-FE tidak didesain untuk aplikasi turbocharger. Makanya header pun dibuatkan secara khusus dengan posisi turbo berada di atas layaknya mesin diesel 2KD-FTV.

Selebihnya tinggal bermain dengan software alias engine control unit. Namanya juga budget terbatas, Willy hanya mencangkok ECU standar dengan piggyback keluaran Dastek berlabel Unichip Q-series. “Pressure di-set sebatas 0,5 bar saja agar paking kepala silinder tidak pecah,” cetus Willy.

Agar konsumsi bahan bakar tidak terlalu boros akibat boost turbo sebesar 0,5 bar itu, Therry menambahkan kit gas hidrogen alias HHO (Hydrogen Oxygen) yang disuntik ke dalam intake manifold. 

Hasilnya lumayan, untuk pemakaian dalam kota bisa dicapai konsumsi bahan bakar sebesar 10 km per liter dengan bahan bakar Pertamax Plus. 

Mesinnya ini juga mendapat pasokan udara tambahan dari turbocahrger IHI bertipe RHF-04. Dari segi dimensi, rumah keong yang dipakai Therry cukup kompak. Dengan besaran air ratio sekitar 0.48, putaran turbin bisa bermain leluasa sejak rpm rendah hingga menengah.

Tak bisa dipungkiri, ini merupakan proyek upgrade paket ekonomis sehingga performa puncak juga tak bisa terlalu dahsyat. Untung saja ECU orisinal dibantu dengan piggyback Unichip Q+ dan turbo module keluaran Dastek.

Pasokan bahan bakar bisa dimanipulasi saat turbo melakukan boost dengan tekanan sebesar 0,5 Bar. Jadi tak ada istilah bensin tekor saat udara dalam jumlah di atas rata-rata menembus ruang bakar.

Apalagi setelah Willy menambahkan extrainjektor untuk menambah pasokan bahan bakar yang terletak persis sebelum throttle body. Sementara itu, piping dibuatkan menuju bumper depan.

Ini lantaran turbo intercooler yang ada di balik bumper depan butuh udara segar sebagai pendingin. Barulah pipa kembali ke dalam langsung menuju throttle body. Semua sambungan pipa menggunakan silicone hose yang di-clamp dengan kuat.  (mobil.otomotifnet.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar